DOSEN UNSA MENCETAK SEJARAH SEBAGAI TIM DOSEN PERTAMA DI SUMBAWA YANG MENDAPATKAN HIBAH PENGABDIAN MULTITAHUN

Melalui program pengembangan desa mitra (PPDM) tim Universitas Samawa akan mewujudkan desa Labuhan Bajo sebagai desa garam beryodium. Kegiatan PPDM merupakan salah Satu Bentuk pengabdian dosen UNSA untuk tana Samawa. Kegiatan tersebut merupakan tindaklanjut dan realisasi atas keberhasilan tim pengusul memenangkan hibah kemenristekdikti yeng bersifat multitahun dengan total dana sebesar Rp 450.000.000. Prestasi ini merupakan sejarah baru bagi Sumbawa karena merupakan hibah pengabdian multitahun pertama yang berhasil diperoleh oleh dosen di Sumbawa. Mengangkat judul “Pengembangan Desa Labuhan Bajo Sebagai Desa Garam Beryodium Dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Garam Dan Mengurangi Angka Kejadian Stunting”, proposal PPDM tersebut disusun oleh Tim pengusul terdiri dari Dedi Syafikri, M.Si, Dwi Mardhia, ST, M.Sc, Nining Andriani, M.Pd dan Fahmi Yahya, M.Pd.

Kegiatan PPDM ini didasari kepedulian tim pengusul terhadap permasalahan petambak garam tradisional di desa Labuhan Bajo dan tingginya angka stunting di desa tersebut. Kualitas garam yang dihasilkan oleh petambak garam memiliki kadar NaCl di bawah 96 %, belum memenuhi syarat sebagai garam konsumsi karena belum memiliki yodium sesuai standar kesehatan. Kondisi tersebut mengakibatkan rendahnya harga garam yang diterima para petambak garam. Rendahnya kualitas garam yang diikuti oleh rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap konsumsi garam yodium berdampak pada meningkatnya angka kejadian Gangguan Akibat Kekurangan yodium (GAKY) salah satunya kasus stunting. Kecamatan Utan dimana desa Labuhan Bajo berada termasuk daerah yang berada pada zona merah (masalah berat) kasus stunting yaitu sebanyak 37,09 % angka kejadian stunting, artinya 2 dari 3 bayi lahir di kecamatan Utan beresiko terkena stunting. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan sebuah program oleh institusi sebagai bentuk hilirisasi riset multidisiplin yang akan memberikan kemajuan bagi desa Labuhan Bajo sebagai desa mandiri penghasil garam beryodium dan mengentaskan permasalahan stunting yaitu melalui kegiatan PPDM.

Kepala desa Labuhan Bajo, Talana AM, memberikan apresiasi luar biasa atas terlaksananya kegiatan PPDM ini. Pasalnya kegiatan tersebut sangat pas dengan permasalahan di desa Labuhan Bajo. Ia berharap melalui kegiatan ini dapat mewujudkan desa Labuhan Bajo sebagai desa garam beryodium, disamping itu diharapkan melalui kegiatan ini kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi garam beryodium mengalami peningkatan.

Kegiatan PPDM yang akan dilaksanakan selama 3 tahun dengan dana sebesar Rp 450.000.000 ini meliputi kegiatan: (1) penerapan teknologi tepat guna Sistem Teknologi Ulir Filter (TUF) dengan menggunakan media isolator dalam pembuatan garam di desa Labuhan Bajo (2) Mendorong peningkatan pemanfaatan potensi lahan pertambakan garam desa Labuhan Bajo (3) meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi garam yang diharapkan dapat menambah nilai ekonomi garam sehingga dapat menambah pendapatan petambak garam (4) Meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk usaha garam rakyat desa Labuhan Bajo melalui peningkatan produksi dan kualitas garam yaitu pengolahan garam konsumsi yang mengandung Yodium (5) Peningkatan kapasitas kelompok petambak garam (6) Pembinaan dan pendampingan kepada kelompok petambak garam (7) Pembentukan koperasi yang bisa mengkoordinir produksi dan menjaga stabilitas harga garam dengan pelibatan PKK dan ibu-ibu petambak garam (8) Peningkatan kapasitas bagi pengelola Koperasi untuk garam yodium (9) peningkatan kapasitas PKK/kader posyandu dalam pengujian kualitas garam beryodium (10) Peningkatan konsumsi garam beryodium masyarakat desa Labuhan Bajo untuk mengurangi angka kejadian GAKY/stunting

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *